MEMPERSIAPKAN
PESTA INTAN GEREJA LOKAL KEUSKUPAN BANJARMASIN
TAHUN 2013
Pengantar Rekoleksi Para
Imam Keuskupan Banjarmasin, Selasa, 3 April 2012
Oleh : Mgr. Petrus Boddeng Timang
Uskup Keuskupan Banjarmasin
Pada
tanggal 21 Mei 2013 Gereja Lokal Keuskupan Banjarmasin genap berusia 75 tahun
(1938 – 21 Mei – 2013). Peristiwa itu akan kita syukuri dengan berbagai cara
dan kegiatan. Kita bersyukur atas karya Tuhan seama 75 tahun itu melalui para
misionaris pastor, bruder, biarawan, biarawati, kaum awam khususnya para
katekis dan pemuka awam lainnya. Mereka telah memberikan sumbangsih berupa
tenaga, waktu, pikiran dan bahkan hidup mereka demi perkembangan Keuskupan
Banjarmasin sesuai dengan fungsi dan peranan mereka masing-masing. Kita
meneropong dengan mata iman bagaimana sosok Gereja Lokal Keuskupan Banjarmasin
itu saat ini, di mana tempatnya dalam Gereja Katolik Indonesia, apa peranannya
dalam keluarga besar bangsa Indonesia pada umumnya dan pada khususnya di bumi
Kalimantan Selatan ini.
Sementara
itu kita tidak lupa menerawang ke depan, membayangkan saat Keuskupan ini
merayakan pesta intannya yang kedua!
I. Sinode
Keuskupan 2013
1. Maksud
utama Sinode Keuskupan adalah untuk memetakan situasi nyata Keuskupan dalam
berbagai aspeknya dan untuk merumuskan arah dasar, visi, misi yang menjadi
pedoman gerak langkah ke depan. Melalui Sinode dengan berbagai tahapannya
diharapkan akan muncullah potret Keuskupan yang sesungguhnya, bukan berdasarkan
perkiraan dan angan-angan belaka. Dari potret itu pula dapat diketahui
kebutuhan riil umat dan masyarakat setempat di mana umat hidup dan yang menjadi
subyek pelayanan dan evangelisasi umat itu. Selanjutnya dapat diproyeksikan
langkah-langkah pengembangan ke depan dalam bentuk rumusan arah dasar, visi,
misi Keuskupan secara bertahap, berjenjang dan berkesinambungan untuk jangka
waktu 5, 10, 25 sampai 50 tahun ke depan.
Sesudah
Sinode tingkat Keuskupan selesai (Juli 2013) masih ada langkah-langkah
strategis lanjutan berupa rapat kerja, lokakarya dan kegiatan lain untuk
menjabarkan program-program konkrit yang akan menuntun pelaksanaan arah dasar
tadi di paroki-paroki dan kelompok-kelompok kategorial umat. Juga perlu
dibangun mekanisme pemantauan pelaksanaan hasil-hasil Sinode itu. Maka
saya percaya segala urusan tentang Sinode itu menjadi prioritas utama para
pastor di paroki masing-masing.
2. Apapun
metode dan hasilnya, angket dan kuesioner yang diedarkan ke tengah umat sudah
membuka pintu untuk membaca berbagai hal dalam umat. Peta kemampuan umat,
persoalan-persoalan yang mereka hadapi, tingkat kedalaman iman mereka,
kebutuhan mereka, mutu pelayanan dan pendampingan para pastor, keterlibatan
umat di lingkungan masing-masing dalam hal hidup bermasyarakat dan bersesama
dengan kelompok-kelompok lain yang berbeda agama, suku dan budaya dan banyak
lagi dapat dibaca dari angket dan kuesioner tadi.
a. Pastoral kehadiran: pastor paroki hadir di
tengah umat sesering dan seintensif mungkin (untuk berkatekese, mengenal dan
menggembalakan, menyucikan umat à (vs pastor administrator dan
manajer)
b. Tingkat pemahaman (dan dengan demikian
penghayatan, pengungkapan serta perwujudan iman itu: liturgi dan amal kasih)
masih sangat rendah.
c. Partisipasi umat dalam kehidupan menggereja
masih rendah (à pastor sentrisme) à penataran-penataran dan pendalaman
umat, pelatihan kader-kader pemimpin umat.
d. Tiga tahun Muskerpas 2009 berlalu, tetapi
gemanya hampir tak terlacak dalam angket dan kuesioner yang dikembalikan umat.
e. Koordinasi
yang sinergis antara komponen-komponen umat masih jauh dari memadai (antar
komisi-komisi Keuskupan, antara pastor paroki dengan fungsionaris-fungsionaris
umat).
Tanpa
menunggu hasil Sinode 2013 setiap paroki dan komisi sudah dapat mulai berbenah
diri dari sekarang dan fokus pada apa yang harus diutamakan dan didahulukan.
II. Pastoral
Khusus
1. Ada ungkapan
”Keluarga adalah gereja terkecil dan inti”. Segala sesuatu tentang iman atau
nilai-nilai iman berawal dari keluarga. ”Keluarga retak, masyarakat hancur,”
judul sebuah buku kecil terbitan CLC karya Pater Adolf Heuken, SJ tahun
1970-an. Maka pastoral untuk keluarga merupakan kebutuhan dasar. Setiap pastor
paroki perlu mengenal keluarga-keluarga dalam parokinya dengan sedapat mungkin
mengunjungi mereka satu per satu. Kunjungan ke keluarga-keluarga itu bukan
suatu pilihan manasuka, melainkan prasyarat untuk suatu pastoral yang berbuah,
benar dan baik. Paroki Banjarbaru asuhan MSF sudah kami tugasi secara khusus
untuk mengambil langkah-langkah konkrit dalam hal itu di Paroki Bunda Maria Banjarbaru
supaya dapat disharingkan ke paroki-paroki lain se-Keuskupan Banjarmasin.
2. Anak-anak
adalah subyek perhatian Yesus yang utama (Mrk 10:13-16). Oleh karena itu
pastoral terhadap anak-anak merupakan prioritas utama di paroki-paroki melalui
BIA, Sekami atau jalur sekolah. Perhatian khusus kepada anak-anak bukan suatu
pilihan yang boleh diabaikan, melainkan suatu keharusan. Anak-anak masih
bagaikan kertas putih yang siap ditulisi apa saja. Pastor-pastor paroki
menulisi mereka dengan Injil! Hendaknya para pastor (paroki) sesering mungkin
hadir di tengah anak-anak (di sekolah dan di paroki) dengan berjubah.
3. Orang muda
merupakan kelompok umat yang paling besar, paling dinamis dan kreatif. Di lain
pihak mereka juga masih labil dan mudah terombang-ambing dan karenanya tidak
jarang sulit memahami ”bahasa” mereka. Namun orang muda adalah kekuatan gereja
(paroki) yang luar biasa tak tertandingi asal didampingi dengan kasih, setia
dan telaten. Seksi Kepemudaan Paroki (SKP) adalah seksi yang tak boleh dihilangkan
dari DPP (Dewan Pastoral Paroki)! Dan perhatian pastoral terhadap orang muda
tak boleh kurang dari perhatian terhadap anak-anak, orang jompo dan ibu-ibu!
III. Panggilan
Imam Diosesan
”Sebab Gereja
berakar lebih kuat di setiap golongan manusia, bila pelbagai jemaat beriman
dari kalangan para anggotanya mempunyai pelayan-pelayan keselamatannya sendiri
pada tingkat Uskup, Iman dan Diakon, yang melayani para saudara mereka,
sehingga Gereja-gereja muda lambat laun memperoleh tata susunan keuskupan beserta
klerusnya sendiri” (AG 16:1).
Konsili
menegaskan bahwa salah satu tanda kedewasaan suatu gereja lokal ialah
tersedianya tenaga pelayanan pastoral yang memadai. Pada saat Keuskupan
Banjarmasin merayakan 75 tahun berdirinya, tenaga imam diosesan yang ada sudah
5 orang dan 2 imam pinjaman. Selebihnya adalah misionaris. Satu situasi yang
sangat tidak normal. Maka apapun alasan dan penyebab situasi ini, kami minta
supaya para pastor (paroki) menjadikan promosi panggilan imam diosesan ini
sebagai salah satu program utama karyanya. Para pastor kami tugasi untuk
menjadi promotor panggilan calon-calon imam diosesan dengan pelbagai cara.
Sikap Uskup Agung
Makassar Mgr.
N.M. Schneiders, CICM (alm) sejak awal masa jabatan beliau sangat jelas.
Beliau minta kepada Provinsial CICM supaya tarekat tidak merekrut calon-calon
imam CICM dari wilayah Keuskupan yang pada waktu itu dilayani hanya oleh
misionaris-misionaris CICM. Semua anak yang berminat menjadi imam, wajib menjadi
imam diosesan. Tak ada pilihan lain. Hasilnya sangat nyata. Sampai akhir 1978
jumlah imam diosesan Keuskupan Agung Makassar 10 orang dan saat ini jumlah
mereka mendekati 100 orang. Sejak tahun 1980 CICM mulai membuka novisiat tetapi
calon dicari dari luar Keuskupan Agung Makassar. Upaya untuk menggalakkan
panggilan calon imam diosesan Keuskupan Banjarmasin ini menjadi panggilan
sejarah, karena tak mungkin dan tak dapat diharapkan Keuskupan terus-menerus
mengandalkan tenaga misionaris dari luar. Kami harapkan sumbangsih nyata para
pastor dalam hal itu (doa-doa, percakapan-percakapan, dana, upaya-upaya
terstruktur di paroki, dan sebagainya).
IV. Pastor
Memberdayakan Potensi-potensi Umat
Pastor adalah
pertama-tama gembala umat, maka keprihatinan utama pastor dalam doa-doa dan
upaya-upaya pastoral adalah:
a. Memelihara
umat yang ada dan mencari umat yang ”hilang” (ad intra).
b. Berupaya
untuk menambahkan jumlah umat dengan penginjilan (ad extra).
Kalau asumsi
pada poin I. 2 butir b dan c tadi benar, maka pastor tak ada sempat untuk
tinggal di zona nyaman sepanjang hari karena
sebagai gembala dan bapa umat dia selalu harus ada di tengah umatnya untuk
mengajari, menguduskan dan menggembalakan umatnya itu. Mengenali dan memahami
serta berempati terhadap situasi dan pergumulan hidup umatnya adalah poko
keprihatinan utamanya (tak ada peluang untuk marah, mengeluh atau
mempersalahkan pihak lain!).
Sendirian tentu mustahil seorang pastor dapat
melaksanakan semua itu. Maka struktur-struktur pelayanan perlu dibangun,
diberdayakan dan diperkuat. Kelompok-kelompok yang sudah ada diberi ruang gerak
dan didukung kalau perlu dengan dana paroki. Kelompok yang belum ada didorong
kelahiran dan pertumbuhannya. Wanita Katolik, Pemuda Katolik, PMKRI,
Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK), KTM, Legio Mariae dan lainnya adalah anak
sah Bunda Gereja, jadi perlu diberi ruang sama lapangnya. Memahami dan
mendampingi kelompok-kelompok itu adalah kewajiban pastor paroki, bukan satu
pilihan manasuka.
V. Persiapan Lanjut
Salah satu agenda penting sesudah Sinode 2013 ialah tim kerja
pasca Sinode. Disamping itu perlu segera dibentuk Panitia Yubileum 75 tahun
Keuskupan Banjarmasin. Momentum 75 tahun Keuskupan Banjarmasin harus memperkuat
keberadaannya dalam angka misi ad intra dan ad extra. Misi itu
harus muncul dalam rangkaian acara pra perayaan dan pada saat perayaan puncak.
Demikian beberapa pemikiran untuk mempersiapkan perayaan
Pesta Intan Keuskupan kita. ”Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara
kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” (Fil 1:6)
Tuhan memberkati. Amin.
1 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar