Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juli 2011

Senin XVI/ I, Mat 12:38-42



Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda


Mat 12:38-42


“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Mat 12:38-42),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

dari Bacaan Injil ini ada beberapa hal yang bisa kita renungkan:
1. Manusia membutuhkan suatu kepastian.kepastian itu seringkali hadir dalam tanda yang diterimanya.bdk dengan Thomas yg tidak percaya sebelum ia mencucukan tangannya di bekas luka Yesus (Yoh 20:25).
2. Namun, seringkali manusia tdk mampu menangkap tanda yang telah hadir di hadapannya, seperti orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dalam Injil ini.Mereka meminta tanda kepada Yesus (Tanda kuasa/ kehadiran Allah), padahal Allah itu sendiri telah hadir di hadapan mereka dalam diri Yesus, yang seringkali mereka tentang, mereka cobai, mereka musuhi, bahkan pada akhirnya mereka salibkan.
3. Masih perlukah tanda bagi ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak mau percaya kepada Yesus? Banyak tanda dan mukjizat telah dibuat Yesus, namun ternyata hati mereka semakin keras membatu. Mereka menganggap diri paling benar, sehingga mereka senantiasa menjebak Yesus untuk mencari kesalahan- Nya.

Saat itu mereka memanggil Yesus sebagai Guru (Rabbi), suatu panggilan awal yang sopan untuk menyelubungi maksud yang jahat. Mereka senantiasa mencari cara yang mereka anggap paling jitu untuk menjebak Yesus. Dalam bacaan ini, mereka meminta tanda dan bukan mukjizat, karena tanda merupakan pengesahan yang bersifat illahi. Mereka berpikir bahwa Yesus tidak mungkin memberikan tanda karena Ia adalah manusia biasa, anak seorang tukang kayu. Mereka berharap ketika Yesus tidak mampu memberikan tanda, maka terbukti bahwa apa yang dikatakan-Nya selama ini tidak benar. Bagaimana respons Yesus? Ternyata Yesus tidak terpancing dengan tantangan mereka, Ia tidak membuktikan Keillahian-Nya dengan cara manusia, tetapi dengan kuasa Illahi Ia menyingkapkan siapa mereka dan siapa Diri-Nya.

Dengan kata-kata sangat keras dan pedas Yesus menegur mereka sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia, karena mereka tidak mau terbuka kepada kebenaran-Nya. Kepada mereka Yesus tidak menunjukkan tanda yang spektakuler, tetapi Ia memfokuskan kepada misi kedatangan Anak Manusia ke dunia, seperti tanda nabi Yunus. Yesus menyebut Diri-Nya sebagai Anak Manusia, karena sebutan Kemanusiaan-Nya inilah yang diterima mereka. Namun Yesus jauh melebihi nabi Yunus. Orang-orang Niniwe bertobat karena pemberitaan Yunus, tetapi orang- orang yang mendengar dan mau percaya, bertobat, karena Ia sendiri jalan keselamatan itu. Kemudian Yesus mengkaitkannya dengan kedatangan ratu Syeba dari ujung bumi untuk melihat keagungan dan kekayaan raja Salomo. Ia jauh melebihi Salomo, karena itu banyak orang dari segala penjuru akan datang kepada-Nya untuk mendapatkan keselamatan daripada-Nya.

Renungkan: Tanda apa pun tidak dibutuhkan bagi orang yang mengeraskan hati kepada kebenaran-Nya. Hanya hati yang mau terbuka yang akan melihat bahwa segala perbuatan Yesus merupakan bukti bahwa Dialah Mesias sejati

Ro_ni 18 Juli 2011

Minggu, 17 Juli 2011

Renungan Hari Minggu Biasa XVI A

dalam sebuah keluarga sering kali kita melihat, sekalipun berasal dari orang tua yang sama, namun perangai dan sifat anak tidaklah sama.ada kalanya ada yang berbudi baik, tapi ada juga yang berbudi buruk.mengapa begitu?bukanlah setiap orang tua akan memberikan pengajaran dan teladan yang baik? di mana perubahan buruk ini? atau lebih jauh, bukankah Allah pencipta semesta menciptakan manusia sungguh amat baik? tetapi mengapa ada kejahatan?
dalam Injil kita mendengar kisah tentang seorang penabur yang menaburkan benih yg baik – benih gandum.Saat semua tdr – dtg musuh: taburkan benih lalang – saat berbulir: nampak jelas bedanya. Ketika hamba2 melapor & minta ijin untu mencabuti – dilarang o/ tuannya: “Jangan, sebab mungkin gandum it ikut tercabut”.Tuan tdk ingin mengorbankan gandum, krn it: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai wktu menuai tiba” – saat it ilalang akan dikumpulkan – diikat – dibakar.

Setelah itu Yesus sendiri yg menerangkan arti perumpamaan it: Penabur : Anak manusia – gelar yg dikenakan pd Yesus. Tuhan menaburkan yg baik ke dunia – atas manusia, tetapi iblis juga menaburkan benih2 yg jahat. Benih kebaikan & kejahatan it tumbuh bersama. Tuhan tdk mencabut benih kejahatan it – tetapi membiarkan tumbuh bersama – agar benih kebaikan tdk ikut tercabut. Inilah misteri A
. BARU pada akhir jaman, Tuhan akan mengutus malaikat2Nya untuk memisahkan yg jahat dr yg baik – melemparkannya ke dlm dapur api, saat akhir jaman inilah orang akan menerima penghakiman. Orang2 yg melakukan kebenaran akan bercahaya spt matahari – (tansfigurasi: kemuliaan)

Perumpamaan mengenai benih lalang yang ditaburkan musuh di ladang gandum menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan gelap/ kejahatan masih tetap membayangi orang-orang yang sudah menerima kehadiran ilahi. Sekaligus ditegaskan bahwa keadaan ini nanti akan berakhir. Satu saat yang gelap akan dipisahkan dari yang terang. Saat org akan dhakimi atas tindakannya. Mungkin orang skr bisa bersorak atas kejahatannya – tp suatu saat nanti ia akan menerima penghakiman.

Bagaimana kita dapat hidup di tengah situasi “peperangan yang baik dan yang jahat ini”? Mari kita belajar beberapa hal:
1.Allah dalam Yesus Kristus atau Anak Manusia senantiasa menabur yang baik untuk tumbuh di dunia agar tercipta kembali taman Eden—situasi yang damai sejahtera (Matius 13:37-38).
2.Kita harus sadar bahwa iblis atau kuasa jahat senantiasa mengganggu, baik melalui penyakit, kenikmatan dunia atau tata hidup yang menekan, (Roma 8:18; 13:1-7. berjaga.
3.Janganlah lemah! Roh Allah yang membangkitkan itu membantu kita di dalam kelemahan kita. Roh Allah, Ialah yang menyampaikan keluhan-keluhan kita yang tak terucapkan dalam doa kepada Allah (Roma 8:26-27). Dan yakinlah: Allah telah bertindak!
4.Fokuslah untuk selalu berbuat baik! Rasul Paulus menasehati jemaat Roma (12:9-21) untuk hidup dalam kasih, meskipun mungkin tidak mendapatkan balasan dari orang lain yang baik (ayat 17-19).

Allah tdk tdr, Allah senantiasa bekerja dan memelihara umat-Nya. Dalam keyakinan itu kita diajak untuk tetap berpikir, berbuat dan berkata-kata yang baik di tengah hal-hal yg tdk baik.

Selamat berjuang dengan Allah dikancah dunia ini. Roh Kudus menyertai.

Ro_ny,
minggu, 17 Juli 2011
SanMar