Sabtu, 27 Agustus 2011

nenek...

memandang ke luar kamar
beberapa bulan yang lalu, aku bersama dengan 2 orang teman berkunjung ke sebuah rumah. ketika mobil berhenti di depan sebuah pagar rumah, yang nampak adalah bahwa pagar itu tertutup, dan pintu terkunci. sepi. sepertinya rumah kosong. tidak ada tanda-tanda kehidupan.

temanku segera turun dari mobil. membuka pagar. nampak sekali kalau dia sudah cukup akrap dengan rumah ini. sejenak kemudian dia mengambil kunci pintu dari suatu tempat, dan membukanya serta masuk ke dalam. memang benar-benar sepi. tidak terlihat maupun terdengar suara seorangpun. nampak ada beberapa kamar, namun pintu juga tertutup rapat. temanku lantas teriak memanggil sebuah nama. bergegas ia menuju ke pintu sebuah kamar dan membukanya. ketika dibuka, nampak sesosok tubuh wanita yang sudah renta terbaring di tempat tidur. sendirian. bertemankan seonggok buku-buku tua di samping tenpat tidurnya. di atas kasur yang ditempatinya.

ketika kami masuk, dia nampaknya tidak bergeming, namun matanya segera terbuka. wajah penuh tanda tanya nampak jelas pada mimiknya. bibirnya mulai bergetar, nampak hendak mengatakan sesuatu. tak lama terdengar suara yang keluar dari bibir renta itu, "Siapa ya?".

temanku lantas dengan sedikit berteriak menyebutkan namanya di telinga nenek itu. namun, rasa ragu dan bingung terlihat masih nampak jelas di mimiknya yang keriput.

tidak dikenal, tidak masalah. demikian akhirnya kesimpulan kami semua. yang jelas niat kami baik. setelah lama ngobrol, baru nenek itu menjadi ingat, siapa kami. nampak wajahnya berubah menjadi ceria. dia lantas bercerita banyak sekali tentang keluarganya, tentang karya-karyanya jaman dulu. dia juga lantas menunjukkan surat-surat yang pernah dikirim oleh kerabatnya. foto-foto masa lampau juga ditunjukkannya kepada kami.

suatu saat kemudian dia berkata demikian, "Kalau boleh, saya pengen makan semangka. rasanya segar. sedikit saja." hati kami tersentak karena iba. teman saya lantas pamitan ke luar sebentar untuk mencari semangka. ternyata tidak gampang juga mendapatkan semangka waktu itu. setelah sekian lama, akhirnya semangka itu datang juga.

segera kami mencari pisau. tapi tidak kunjung ketemu juga.yah...terpaksa harus cari pinjaman.setelah mendapatkan pisau pinjaman, semangka segera kami belah, dan kami antar ke nenek itu sebagian untuk dimakannya. ia nampak begitu lahapnya. begitu menikmatinya. dalam hati aku sungguh teriris. membayangkan berapa lama nenek telah memendam rasa ingin makan semangkanya ini. berapa lama dia harus menanti seseorang datang dan bisa membawakannya sepotong semangka yang telah di inggini sekian lama. secuil semangka rasanya telah mampu mengobati kerinduannya ini

selesai memakan sepotong semangka, dia minta agar yang lain disimpannya di kulkas. katanya buat anak kecil anak ibu penjaga yang merawatnya. Ya Tuhan...di tengah keterbatasannya, di tengah ketidak berdayaannya...ketika apa yang dia inginkan sekian lama terpenuhi, dia masih ingat orang lain. betapa dia tidak mementingkan dirinya sendiri...betapa masih ada perhatian yang dia sisakan buat orang lain....mungkin inilah sekeping uang yang janda miskin berikan dalam kotak persembahan jaman Yesus waktu itu?

hari itu aku sungguh belajar banyak dari nenek itu. bagaimana ia mampu bertahan dalam pengharapannya, di tengah ketidak berdayaan yang harus dia hadapi. bagaimana dia bisa mensyukuri hal kecil yang telah dia terima. bagaimana nenek itu masih mampu 'membagi' apa yang diterimanya. ingat orang lain saat apa yang ia harapkan telah didapatnya. mampu membagi apa yang dia miliki, bahkan hal yang paling dia inginkan selama ini. TUHAN jagalah nenek itu. Temanilah dia dalam kesendiriannya. Biarlah kasihMu senantiasa memenuhi hatinya. Menghangatkan jiwanya. Nenek, doakanlah kami anak-anakmu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar